oleh

Imlek 2571, Imlek Nadiem

Utamanews.id – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengadakan acara Perayaan Imlek 2571 Kongzi Li. Nadiem Makarim sebagai Mendikbud menyampaikan Refleksi Imlek “Merawat Kebinekaan, menjaga Ke-Indonesiaan”.

Ini mungkin perayaan Imlek Pertama yang diadakan oleh Kemendikbud RI. Baru kali ini di jaman Nadiem, Kemdikbud terasa sekali ke-Indonesiaannya. Nadiem yang jebolan Brown University dengan latar belakang pendidikan Hubungan Internasional itu rupanya paham betul arti sebuah kebinekaan.

Ia paham bukan hanya pada aspek kognitif saja melainkan sekaligus aspek afektif dan psikomotorik.

Sebagai pejabat tertinggi yang mengurusi seluruh pendidikan bangsa Indonesia ia mencoba mengembangkan empatinya dengan memberikan pengakuan dan legalitas bagi pemeluk Khonghucu yang menjadi bagian integral bangsa Indonesia.

Nadiem bersama jajaran Kemendikbud memberikan apresiasi yang tinggi dengan tagline Imlek merawat kebinekaan dan menjaga ke-Indonesiaan. Nadiem juga tampaknya faham betul bagaimana menepatkan posisi Tahun Baru Imlek 2571 sebagai Tahun Baru Umat Khonghucu Indonesia, maka ia membuat acara perayaan Tahun Baru Imlek yang sederhana namun penuh makna.

Diketahui bersama di Indonesia Imlek mengalami pergeseran makna, Imlek yang bagi umat Khonghucu memiliki makna religius menjadi terdegradasi oleh perilaku sebagian Tionghoa Indonesia yang mengalami syndrome “gegar budaya”.

Dimana disatu sisi banyak Tionghoa yang sudah meninggalkan tradisi religius para pendahulunya namun masih setengah hati dalam menyikapi perilaku budayanya yang religius.

Sebagai contoh nyata dari perilaku gegar budaya ini ialah banyak Tionghoa yang dengan gampangnya menuliskan frase Selamat Tahun Baru Imlek 2020. Tanpa sadar dan tidak segera mau memperbaiki, tagline Imlek 2020 menjadi tagline yang sungguh memalukan bagi bangsa yang berbudaya ini.

Bayangkan jika teman-teman Hindu kita menggunakan selamat hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 2020? Bukankah hal ini sungguh absurd jika sampai terjadi. Tentunya teman-teman Hindu akan menggunakan perhitungan Tahun mereka sendiri yang tahun ini jatuh pada tahun 1942.

Imlek dalam konteks Indonesia dihitung berdasarkan kelahiran Confucius (Kongzi) yang tahun ini mencapai yang ke 2571. Kenapa dalam konteks Indonesia menggunakan perhitungan kelahiran Confucius, hal ini tidak lepas dari peran organisasi Tionghoa Indonesia pada jaman pra kemerdekaan yang bernama Tiong Hwa Hwee Koan (THHK), yang berdiri pada tahun 1900. Dasar perjuangan THHK adalah menyebarluaskan pendidikan berdasarkan ajaran Khong Hu Cu (Confucius).Perhitungan Imlek di Indonesia bagi THHK terinspirasi dari teman-teman Muslim dalam menentukan Kalender Hijriah yang dihitung berdasarkan waktu Hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah Ke Madinah, dimana Kalender Hijriah merupakan sebuah manifesto religius dari ajaran Islam sebagai ekspresi simbol pembaharuan (the new begining era).

Nadiem tampaknya ingin konsep Tahun Baru Imlek di Indonesia sebagai sebuah momentum mereduksi syndrome gegar budaya dalam masyarakat Tionghoa Indonesia, Nadiem ingin masyarakat Tionghoa Indonesia meneladani THHK yang berjuang bagi pendidikan Tionghoa Indonesia sejak jaman pra kemerdekaan, Nadiem juga ingin semangat perjuangan THHK menjadi inspirasi yang berlanjut untuk merajut kebinekaan dan merawat ke-Indonesiaan. Mengapa? Karena sepertinya Nadiem tahu betul bagaimana para kader THHK berjuang bersama para pendiri bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut berkontribusi pada perdamaian dunia.

Momentum Tahun Baru Imlek 2571 ini menjadi momentum bersyukur dan berjuang serta memperbaharui diri menuju Indonesia dalam Kebersamaan Agung.(rls/rd).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed