oleh

Buntu Akal, Kerahkan Preman Untuk Intimidasi Pemilih

Utamanews.id – Suhu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) yang tinggal hitungan hari kian memanas. Namun kali ini bukan soal adu progam kerja masing-masing paslon, melainkan intimidasi serta penculikan terhadap simpatisan pendukung Calon Kepala Daerah.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya dua aduan dari warga masyarakat yang coba mengadukan nasib dan perlindunganya kepada pasangan calon nomor urut 02 Hi.Musa Ahmad.S.Sos – dr.Ardito Wijaya lantaran dirinya mendapat intimidasi dari tim sukses (Timses) yang di duga dari paslon nomor urut 03 Nessy Kalvia – Imam Suhadi, Bahkan istrinya beserta 4 keluarganya di culik dan di paksa ikut dengan mereka Minggu, (6/12).

Hariono warga kampung Way Kekah, Kecamatam Terbanggibesar menuturkan awal kejadian peristiwa itu terjadi, pada saat itu, minggu sekitar pukul 17.30 WIB, Dirinya di datangai puluhan orang bebadan besar yang mengerumuni kediamanya, Salah satu dari mereka menanyakan keberadaan istrinya. Melihat gelagat yang tidak baik, dirinya mencoba mengulur waktu dengan mengatakan bahwa sang istri sedang tidak berada dirumah dan sedang bepergian keluar, Namun puluhan warga itu tak kunjungi pergi hingga akhirnya sang istri datang dan akhirnya kejadian tersebut terjadi.

” Pulang kerja saya tidak tau apa alasanya, rumah saya tiba-tiba di datangi puluhan lebih orang bang, mereka nanya istri saya, namun saya jawab tidak ada, mereka nyuruh saya cari istri saya, sampai akhirnya istri saya pulang dan di intimidasi bersama ke empat keluarga saya ” jelasnya menirukan perkataanya.

Lebih lanjut Hariono menjelaskan, bahkan tidak sampai disitu, empat keluarga saya yakni inisial J (istri korban), dan tiga kerabat lainya yakni S,L dan M, serta satu laki-laki yang merupakan tetangga korban ikut mendapatkan perlakuan tidak wajar.

” Istri saya dipaksa suruh diam waktu mereka bertanya-tanya, namun istri saya tidak mau diam dan mulutnya diremas oleh pelaku hingga mengeluarkan darah, 4 lainya juga dapt intimidasi paksaan harus menuruti apa yang menjadi kemauan puluhan orang tersebut ” ungkapnya.

Merasa tak mempunyai daya, akhirnya Hariono harus merelakan istri beserta 4 keluarga untuk dibawa para pelaku tanpa kejelasan akan dibawa kemara para korban tersebut. ” Untuk itu bang, saya ini pendukung Ahi Musa dan Mas Ardito, saya minta bantuan dan perlindungan agar saya bisa lapor ke pihak berwajib lantaran peristiwa ini, karena kalau saya sendiri, pasti nanti saya di culik juga”, jelasnya dengan nada ketakutan.

Tidak hanya itu, sebelumnya pada hari Jum’at, 5 Desember 2020 kawanan preman yang mengaku-mengaku sebagai petugas kepolisian (Polisi Gadungan-red) dan puluhan preman juga mengintimidasi dua warga kampung Muji Rahayu,Kecamatan Seputih Agung yakni S (47) dan N (40).

Dalam pengakuan korban, mereka dipaksa untuk mengakui hal yang tidak mereka lakukan, yakni dituduh membagi-bagikan uang (Money Politic-red). Merasa ketakutan dan terancam, akhirnya mereka harus menuruti hal yang tidak mereka lakukan.

” Saya ditanya membagikan uang atau tidak dari paslon 02, kami bedua jawab tidak tahu, bagikan uang apa ? Namun karena kawan saya ini memegang data KWT dan uang sisa hasil usaha singkong yang dikeringkan atau yang sering orang bilang Gaple untuk dibagikan kepada kelompok usaha, kemudian kami di paksa harus mengakui oleh seorang yang menggunakan lencana polisi karena di ancam akan di proses ke hukum ” jelasnya.

Lebih lanjut, kesemua korban menegaskan bahwa mereka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukan, penekanan intimidasi yang dan kekerasan yang menjadi pemicu untuk korban harus mengakui.

Diketahui, masih ada beberapa korban lagi yang rencananya hari ini akan mengadukan ke pihak berwajib. (rls/rd).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed