oleh

Awal 2021, BMKG Ungkap Terjadi Peningkatan Aktivitas Kegempaan

Utamanews.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan di Indonesia pada awal 2021. Tercatat sebanyak 59 kali aktivitas gempa terjadi selama waktu 22 hari.

“Selama periode 1 hingga 22 Januari 2021 saja, BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali. Jumlah ini tergolong tinggi dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan. Bahkan, pada 14 Januari 2021, dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak delapan kali,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly melalui keterangan tertulis, Sabtu (23/1/2021).

Sadly menuturkan BMKG masih memonitor aktivitas gempa yang terjadi di wilayah Majene dan Mamuju. Hingga hari ini tercatat total 43 kali gempa, di mana pagi tadi pukul 11.00 Wita terjadi 34 kali gempa susulan.

“Hasil analisis peluruhan gempa susulan menunjukkan bahwa diperkirakan gempa susulan akan berakhir sekitar 3-4 minggu pascagempa utama (15/1), dengan intensitas dan frekuensi yang semakin menurun. Hasil perhitungan ini, meskipun menggunakan formula dan metode yang sahih, bukan menjadi hitungan yang pasti. Akan tetapi dapat digunakan sebagai gambaran estimasi kapan gempa susulan akan berakhir. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada. BMKG tidak menginstruksikan agar pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing,” tuturnya.

Sadly menyampaikan gempa dengan magnitudo 7,0 yang sempat mengguncang Kepulauan Talaud pada Kamis (21/1) malam termasuk kategori gempa besar. Sadly mengatakan penyebab terjadinya gempa Talaud akibat deformasi batuan pada bagian slab lempeng di laut Filipina yang tersubdiksi di bawah Kepulauan Talaud dan Miangas.

“Gempa kuat juga terjadi pada hari Kamis, 21 Januari 2021, pukul 19.23.08 WIB yang mengguncang Kepulauan Talaud dengan magnitude 7,0. Episenter terletak pada koordinat 4,94 LU dan 127,44 BT, tepatnya di laut pada jarak 132 km arah Timur Laut Melonguane, Talaud, dengan kedalaman 119 km. Gempa ini termasuk gempa berkekuatan besar lazimnya terjadi di zona tunjaman lempeng,” ujarnya.

Lebih lanjut Sadly mengatakan hingga saat ini telah terjadi gempa susulan sebanyak 18 kali di Talaud sejak gempa pertama. Namun gempa susulan tersebut, kata Sadly, masuk dalam kategori rendah.

“Hingga saat ini telah terjadi 18 gempa susulan (aftershocks). Gempa Talaud memiliki produktivitas gempa susulan yang rendah, hal ini karena karakteristik batuan pada Lempeng Laut Filipina sangat homogen dan elastis (ductile). Sifat elastis pada batuan ini yang menjadikan batuan tidak rapuh, sehingga gempa susulan jarang terjadi. Gempa Talaud meskipun tidak berpotensi tsunami tetapi menimbulkan kerusakan beberapa bangunan rumah dan tempat ibadah yang tersebar di Kec. Tampan Amma, Kec. Melonguane, Kec. Beo, dan Kec. Beo Utara,” imbuhnya.

BMKG mengatakan masyarakat perlu waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran dan runtuhan batu. Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil, mengingat pesisir Majene pernah terjadi tsunami pada tahun 1969, masyarakat yang bermukim di wilayah Pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak percaya berita bohong (hoax) untuk meninggalkan Mamuju atau kembali ke rumah masing-masing. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang tetapi waspada, serta mengikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi seperti BMKG dan arahan dari BNBP/BPBD.(rd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed