oleh

Diduga Terlibat Bisnis Sabu, Oknum Polisi Berpangkat AKP Dituntun 18 Tahun Penjara

Utamanews.idLantaran diduga telah menjadi perantara dalam bisnis jual beli sabu, seorang oknum Polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi dituntut penjara selama 18 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), selain itu Terdakwa juga dikenakan Pidana Denda sebesar Rp1 miliar dengan subsidair denda yakni hukuman 4 bulan penjara.

Tuntutan hukuman tersebut dibacakan oleh JPU Rosman Yusa di hadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Hartati, dalam gelaran sidang lanjutannya yang dilaksanakan secara terbuka di ruang Ali Said gedung Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Karang pada Selasa siang (09/03).

“Menyatakan terdakwa Andrianto terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 114 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sesuai dengan Dakwaan pertama,” ujar Yusa.

“Menjatuhkan Pidana Penjara selama 18 tahun, dan Pidana Denda sebanyak Rp1 miliar dengan Subsidair Denda pidana kurungan badan selama 4 bulan,” sambungnya.

Diketahui sebelumnya, oknum Anggota Polri ini ditangkap dan diamankan oleh petugas Bandan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung setelah melakukan pengembangan terhadap Tersangka Adi Kurniawan yang juga berstatus sebagai seorang Kepala Kampung (Kakam) Sukajawa,Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah.

Adi Kurniawan adalah Tersangka pertama yang diamankan setelah menerima sabu seberat satu kilogram yang dikirim langsung dari Pekanbaru Riau, yang saat penyidikan dan pemberkasan Kakam tersebut berhasil kabur dari dalam Rumah Tahanan (Rutan) sementara BNNP Lampung.

Selanjutnya Ia pun berhasil diamankan kembali di Palembang, namun saat ditangkap dirinya berusaha melakukan perlawanan sehingga petugas pun terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur, yang mengakibatkan dirinya harus mengalami pendarahan dan meninggal dunia saat dilakukan tindakan pertolongan.

Semantara Yogi Syahputra selaku Kuasa Hukum dari Andrianto mengungkapkan keberatannya atas tuntutan yang dibacakan oleh JPU di gelaran sidang kali ini, ia beralasan bahwa sesuai dengan isi dakwaan kliennya tersebut tidak pernah sama sekali menyentuh sabu yang menjadi barang bukti dalam perkara ini.

“Kami merasa keberatan dengan tuntutan hukuman 18 tahun itu, karena memang klien kami pak Andrianto ini tidak pernah melihat dan menyentuh barang hram tersebut,” Ujar Yogi.

“Pak Andrianto memang mengakui mengenal Adi Kurniawan, tapi hubungan keduanya dekat lantaran Adi Kurniawan adalah informan yang selama ini membantu kinerja Pak Andrianto dalam menjalankan tugas memberantas Narkotika,” sambungnya.

Dalam dakwaannya, JPU pun turut menerakan adanya transferan uang sebanyak Rp7 juta ke rekening Andrianto sebagai barang bukti yang memperkuat adanya jual beli Narkotika, namun hal tersebut dibantah oleh Yogi, dirinya menjelaskan terkait uang yang masuk ke dalam rekening terdakwa dari Adi kurniawan bukanlah uang pembelian sabu, namun hanya terkait hutang piutang keduanya.

“Transaksinya diakui oleh Adi Kurniawan almarhum sebagai hutang piutang, jadi bukan hasil transaksi narkoba, maka dari itu amat sangat berat Tuntutan 18 tahun dan kami akan ajukan pledoi sebagaimana fakta-fakta yang terungkap di persidangan,” tegasnya.

Selain barang bukti yang dipermasalahkan olehnya, Yogi pun turut mempermasalahkan menyangkut saksi dari jasa paket pengiriman yang ikut mengirimkan sabu satu kilogram dari Pekanbaru tersebut, menurutnya sang kurir sesungguhnya dapat menjadi Saksi Kunci terang benderangnya perkara ini, namun hingga dibacakannya tuntutan JPU saksi tak kunjung dihadirkan langsung ke persidangan.

“Kan faktanya paket pengiriman sabu itu menggunakan jasa paket Indah Kargo, sedangkan kurir Indah Kargo itu tidak bisa dihadirkan hanya kesaksiannya dibacakan, hal itu membuat kami kesulitan membuktikan klien kami tidak bersalah, kami pun sempat meminta untuk menunda jadwal tuntutan agar saksi didatangkan, namun jaksanya berdalih sang kurir sudah tidak di sini ia telah dipindahkan diluar kota,” tambahnya.

Persidangan dari perkara ini akan dijadwalkan kembali digelar pada pekan depan, dengan agenda sidang yang akan mendengarkan pembacaan nota pembelaan dari terdakwa. (rls/rd).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed