KONSEP KETUHANAN DALAM HINDU

Dalam pergaulan antarpemeluk agama, acapkali Agama Hindu dianggap oleh outsider sebagai agama politeisme, agama yang memuja banyak Tuhan. Tidak hanya itu, Hindu juga identik dengan agama yang memberi ruang untuk berkembangnya kepercayaan dan ritualisme kepada mahluk yang lebih ‘rendah’ dari Tuhan, seperti para butha, kepercayaan kepada para roh penghuni pohon [di setiap pohon besar akan ditemukan tempat pemujaan dan pohon itu sendiri dibungkus kain kotak-kotak hitam putih], sungai, danau, laut dan lembah [dilaksanakannya berbagai upacara danu kertih, segara kertih, wana kertih], dan tempat sejenis. Keyakinan dan pemujaan kepada roh para leluhur yang di-istanakan di masing-masing sanggah atau merajan, semakin memperkaya keunikan agama Hindu bagi pemeluknya.Sebaliknya bagi outsider, kondisi ini dianggap semakin tidak mudah dijelaskandan dipahami dalam satu uraian singkat. Lalu Bagaimankah Sesungguhnya Konsep Ketuhanan Dalam Hindu?

Agama Hindu merupakan agama yang memberikan banyak jalan kepada umatnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam agama Hindu dikenal dua konsep Ketuhanan yaitu Nirguna Brahman dimana Tuhan Yang Maha Esa yang tak termanifestasikan dan Saguna Brahman yaitu Tuhan yang termanifestasikan.

Impersonal God (Nirguna Brahman)/ Tuhan yang Transenden  adalah Tuhan yang tanpa sifat yang tak dapat dipikirkan (Acintya). Ia adalah realitas yang absolut.  Suatu realitas yang tak dapat ditentang kehadiranNya, walau tak diketahui bentukNya yang nyata, karena tak mungkin kita mengungkapkanNya secara harfiah apa Ia itu sebenarnya, dan tak mungkin pikiran kita mampu menjangkau atau menafsirkanNya, atau bahkan menerangkan secara pasti dan konkrit Apakah Ia sesungguhnya.  Suatu hal yang pasti adalah Ia itu yang Ada dan Hadir dan ini benar-benar realistis.  Ia adalah realita yang abadi dan absolut tanpa bisa ditawar-tawar lagi KehadiranNya.

Lalu bagaimana manusia yang pada umumnya memiliki tingkat ketidaksadaran (Acentana) yang tinggi dapat memikirkan Tuhan yang Nirguna?

Cetana adalah unsur kesadaran dan Acetana adalah unsur ketidaksadaran. Kedua unsur ini bersifat halus dan menjadi sumber segala yang ada.Cetana itu ada tiga jenis yaitu Paramasiwa (kesadaran tertinggi), Sadasiwa (kesadaran menengah) dan Siwa (kesadaran terendah). Tinggi rendahnya tingkat kesadaran dipengaruhi oleh Maya. Paramasiwa sebagai kesadaran (cetana) tertinggi sama sekali tidak terpengaruh maya karena itu disebut sebagai Nirguna Brahman. Ia adalah perwujudan sepi, suci, murni, kekal abadi, tanpa aktivitas. Sadasiwa sebagai kesadaran (cetana) menengah mulai tersentuh maya, terpengaruh oleh sakti, guna dan swabawa atau hukum ke Maha Kuasaan Hyang Widhi yang memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendak-Nya. Oleh karena itu Ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaannya. Dalam keadaan begini Ia disebut Saguna Brahman. Siwa unsur kesadaran (cetana) terendah sangat banyak tersentuh maya menjadi Siwa atau Mayasira. Mayasira kemudian terpecah-pecah tak berbilang jumlahnya, berwujud mahluk-mahluk. Mayasira yang ada dalam mahluk dinamakan Atma.

Secara umum dalam pemikiran Hindu bahwa konsep Tuhan, dapat dipahami sebagai Tuhan yang Transenden dan Tuhan yang Imanen yang secara jelas kita temukan dalam pemikiran Advaita dari Sankara. Sankara mengatakan bahwa ada dua Brahman, yaitu Nirguna Brahman (Tuhan yang Transenden) dan Saguna Brahman (Tuhan yang Imanen). Menurut Sankara Tuhan yang Transenden adalah Tuhan yang tanpa sifat, sehingga Tuhan terbebas dari perbedaan-perbedaan, sehingga tidak dapat dibedakan oleh manusia yang pada dasarnya memiliki pemikiran yang terbatas. Upanisad menyatakan bahwa Brahman itu Neti-Neti, artinya bukan ini dan bukan itu (Madrasuta, 2002:78). Tidak seorangpun manusia mampu memikirkan dan mengenalinya. Namun Brahman yang Saguna, yang Imanen adalah Tuhan dengan segala atributnya yang dapat didekati dan dikenal oleh manusia. Oleh karena kemampuan manusia mengenalnya dengan tingkat serta kapasitas yang berbeda beda dan atribut Tuhan yang tak terbatas maka Saguna Brahman (Tuhan) dikenal dengan tingkat keragaman yang tinggi, oleh karena kemampuan pengenalan manusia yang satu, berbeda dengan pengenalan manusia yang lainnya. Dengan demikian sangat mudah kita yang awam akan menarik kesimpulan bahwa seolah olah ada banyak Tuhan dalam Hindu, atau Hindu adalah Agama yang Politeistis. Tentu saja pernyataan seperti ini keliru, Tuhan yang Transenden (Nirguna Brahman) dan Imanen (Saguna Brahman) adalah satu (Advaita),

Dalam Chandogya-Upanisad, IV.2.1 (dibaca : Mandala empat, Sukta dua, Mantra satu)  disebutkan “Ekam Eva Adityam Brahman”, yang artinya Tuhan hanya satu, tidak ada yang kedua.

Namun Tuhan yang Imanen (Saguna), oleh orang-orang bijaksana menyebutNya dengan banyak nama, (Rg. Weda. 1.164.46, (dibaca Mandala satu, sukta seratus enampuluh empat, mantra emapt puluh enam), menyebutkan :

“Ekam sat wiprah bahuda wadanti, agnim yaman matariswanam.”

 yang artinya : Tuhan itu satu, oleh para Rsi disebutkan dengan Agni, Yama, Matariswanam.

 Sekaligus dalam hal ini terkandung konsep tentang Istadewata, yaitu pemahaman dan penghayatan tentang Tuhan dan manifestasinya, yang memungkinkan manusia untuk memiliki konsep tentang Tuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya dan kebebasan pada setiap manusia untuk untuk memuliakan Istadewatanya masing-masing dengan perbedaan-perbedaan yang ada, tanpa harus dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

Menyadari bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, maka Brahman memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mendekati diriNya dan memberikan kebebasan untuk memilih jalan yang mana saja untuk menuju kepadaNya, asalkan jalan-jalan yang dipilih itu adalah jalan yang dibenarkan, sebagaimana disebutkan dalam Bhagavadgita IV.11 Sebagai berikut :

Ye yatha mam prapadyante

tams tathai ‘va bhajamy aham

mama vartma ‘nuvartante

manushyah partha sarvasah

Artinya: Bagiamana pun (jalan) manusia mendekatiKu, aku terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.  

Jalan-jalan itu antara lain adalah : 1. Jnana Marga, 2. Bhakti Marga, 3. Karma Marga, 4. Yoga Marga. Tidak ada diantara empat jalan ini yang paling baik. Jalan atau cara yang terbaik bagi seseorang sangat tergantung dari jalan yang paling sesuai dengan kemampuan dan bakatnya masing-masing. Pluralitas adalah suatu keharusan, suatu keniscayaan, yang tak dapat dipungkiri.

Oleh karena pada kesempatan ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Hindu percaya kepada satu Tuhan yang dipersonifikasi ke dalam banyak nama, atribut, dan tugas-fungsi. Kepercyaan terhadap personifikasi Tuhan dalam banyak ragam, dilandasioleh pahamSaguna Brahman.
  2. Keyakinan terhadap Tuhan dengan manifestasiNya yang jamak, telah menginspirasi seluruh rangkaian upacaradalam Hindu, baik dalam kaitannya dengan sepanjang hidup individu, upacara menjaga kelestarian alam, keselamatan dan kebahagiaan.
  3. Konsistensi pikiran, perkataan, dan perbuatan menentukan manusia mencapai neraka, sorga, dan moksa sebagai dunia setelah kematian, sekaligus menjadi ukuran keselamatan dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *