Bandar Lampung – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Budhi Condrowati, menegaskan pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Menurut Condro, MBG adalah program yang sangat baik secara konsep, namun tanpa pengawasan serius, potensi penyimpangan termasuk korupsi bisa muncul di lapangan.
“MBG itu program bagus, tapi harus kita kawal bareng-bareng. Misalnya harga per porsi Rp15 ribu, sudah ada rinciannya sekian ribu untuk lauk, sekian ribu untuk lainnya. Itu harus benar-benar sesuai,” ujar Condro, Senin (2/2/2026).
Condro menekankan pentingnya memperhatikan detail porsi makanan. Ia mencontohkan, porsi lauk ikan yang seharusnya bernilai Rp4 ribu dengan berat sekitar 50 gram tidak boleh dikurangi. Menurutnya, penyimpangan kecil seperti ini sudah termasuk bentuk kerugian dan potensi korupsi.
Selain soal porsi dan anggaran, politisi PDI Perjuangan itu menyoroti pengelolaan limbah dapur MBG yang dinilai belum optimal. Ia meminta seluruh dapur MBG dikelola sesuai SOP untuk mencegah dampak lingkungan dan gangguan bagi masyarakat.
“Masalah limbah ini penting. Kalau tidak dikelola dengan benar, dampaknya muncul kemudian. Semua dapur harus diperiksa, jangan cuma satu. Ini soal keadilan dan kepatuhan SOP,” tegasnya.
Condro juga menyoroti perizinan dapur MBG yang belum rampung di beberapa lokasi. Menurutnya, seluruh dapur harus memiliki izin resmi agar program berjalan aman dan sesuai aturan.
Dengan pengawasan ketat, pengelolaan porsi makanan, limbah, dan izin yang sesuai SOP, Budhi Condrowati optimistis program MBG dapat berjalan lancar, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta terhindar dari penyimpangan.
Dalam kesempatan itu, Budhi turut menyoroti program Pupuk Organik Cair (POC) yang digagas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Ia menilai program tersebut sangat strategis dan bermanfaat bagi ketahanan pangan.
“Sudah ada sekitar 500 desa yang ikut program POC. Satu desa saja bisa 300 hektare sawah. POC ini bisa dipakai bukan cuma untuk padi, tapi juga palawija, jagung, cabai, dan lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, jika limbah MBG diintegrasikan dengan program POC maka akan memberikan manfaat yang maksimal
“Limbah dapur itu sebenarnya bisa diolah jadi pupuk cair. Saya di rumah juga begitu. Harusnya limbah MBG dibuat seperti itu, bukan dibuang ke irigasi atau drainase,” pungkasnya.
Ia mengingatkan, meski limbah terlihat tidak berbau dalam jangka pendek, dampak lingkungan akan muncul jika tidak dikelola dengan benar. (*)









